Pages

Selasa, 15 Juni 2010

Hamil di Luar Kandungan

Kemungkinan terjadi kehamilan di luar rahim (ektopik) terjadi pada 7 dari 1000 kehamilan. Apa penyebab kehamilan di luar rahim dan penanganan apa yang tepat?Pendarahan yang dialami calon ibu pada trimester pertama bisa terjadi pada kehamilan di luar rahim (ektopik). Kondisi ini akibat telur yang telah dibuahi tidak masuk dan tertanam di dalam rahim, melainkan berada di luar rahim. Berikut ini calon ibu yang berisiko mengalami kehamilan di luar rahim:



  • perempuan usia 35-45 tahun, pernah hamil di luar rahim

  • perempuan yang pernah dioperasi saluran telur

  • perempuan yang pernah aborsi berulang

  • perempuan yang pernah mengalami problem infertilitas atau pengobatan untuk merangsang keluarnya sel telur dari indung telur

  • perempuan yang menderita infeksi penggul ataupun menderita TB (tuberkulosis)


Nyaris 95% kehamilan di luar rahim terjadi di saluran telur. Mayoritas disebabkan oleh terhambatnya perjalanan telur yang sudah dibuahi untuk melewati saluran telur menuju rahim. Hambatan itu bisa terjadi karena adanya bekas luka akibat beberapa sebab.


Bisa saja ibu hamil pernah terinfeksi, sehingga bagian tersebut terkena penyempitan. Atau, adanya luka akibat operasi yang pernah dilakukan pada saluran telur. Bekas luka operasi ini bisa menjadi biang masalah saluran telur menjadi lengket atau menutup. Kehamilan di luar rahim ini juga disebabkan adanya endometriosis (jaringan yang mirip lapisan rahim yang ada di luar rahim) atau karena adanya kelainan bentuk dari saluran. Semisal, saluran sejak awal terpelintir.



Gejala kehamilan ektopik ini jarang diketahui sejak dini, jika tidak dilakukan pemeriksan perabaan di awal kehamilan. Sebab, tanda awal kehamilan di luar rahim ini serupa dengan tanda-tanda awal kehamilan biasa. Antara lain, berhentinya haid. Namun, yang bisa menjadi pembeda adalah kehamilan di luar rahim ini kerap menimbulkan rasa nyeri.


Nyeri ini biasanya terasa tajam dan sulit hilang. Nyeri ini akibat desak-desakan di saluran telur dan sekitarnya. Saluran telur yang sempit ini memang bukan tempat penyemaian janin, sehingga janin gagal tumbuh normal. Apalagi organ-organ di sekitar saluran telur yang ikut terdesak, memicu rasa nyeri pada sang ibu. Sekitar panggul dan perut biasanya menjadi daerah yang diserang rasa nyeri ini akibat peritonium (lapisan dalam perut) oleh pendarahan. Gangguan saluran pencernaan juga kerap muncul dibarengi kepala pusing dan penglihatan berkunang-kunang.


Gejala lain adalah pendarahan dari vagina akibat robekan pada dinding saluran telur yang tipis akibat didesak oleh perkembangan janin. Jika ini terjadi, sang ibu dalam keadaan gawat darurat. Untuk mengatasi, perlu dioperasi untuk menghentikan pendarahan.


Agar hal ini tak terjadi, pada pemeriksaan kehamilan pertama perlu diketahui apakah kehamilan ada di tempat yang seharusnya, yakni di rahim. Jika dokter mencurigai adanya kehamilan di luar kandungan, panggul akan diperiksa untuk menentukan pusat rasa sakit serta meraba adanya benda padat di perut.


Kelainan ini bisa dipastikan dari pemeriksaan laboratorium yakni pengukuran hCG. Sebab pada kehamilan normal, kadar hormon kehamilan biasanya meningkat dua kali lipat setiap dua hari dalam sepuluh minggu pertama. Namun, pada kehamilan di luar rahim, peningkatan ini biasanya sangat rendah. Lewat USG, kelainan ini juga dapat dideteksi.


Jika dideteksi terjadi kehamilan di luar rahim, dokter akan mengambil tindakan operasi untuk mengeluarkan janin yang tumbuh diluar rahim tersebut.


Beberapa waktu silam, tindakan ini biasanya melalui operasi caesar. Namun, sekarang jika sel pembuahan pada kehamilan ektopik itu belum pecah atau belum ada pendarahan, penanganannya dapat dilakukan degnan cara laparoskopi (memasukkan jarum besar yang ditusukkan lewat kulit perut dan dipandu dengan alat USG.


Pada operasi ini, saluran telur yang robek harus disingkirkan. Jika keadaan ini diketahui lebih dini, sebelum saluran telur itu robek, janin dapat dikeluarkan, sementara saluran telur pun bisa diperbaiki.


Jika kehamilan di luar rahim ini masih kecil (dibawah 3 cm), dengan obat-obatan sitostatika bisa dipakai untuk menangani kelainan ini. Tapi jika sudah tumbuh semakin besar, selain obat juga perlu laparoskopi.


Kemungkinan hamil setelah kehamilan di luar rahim masih tetap ada, tapi menurun sampai sekitar 60%. Jika satu saluran terpaksa diambil, kesempatan untuk hamil kembali sekitar 40%. Jika seseorang pernah mengalami hal ini, biasanya dia punya kecenderungan mengalami kembali kehamilan ektopik. Karenanya, jika Anda pernah mengalami hamil ektopik dan ingin hamil lagi, periksakan dahulu kondisi Anda sebelum mulai pembuahan. Agar tubuh Anda dapat disiapkan sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar